Jumat, 23 Oktober 2015

Semantik Bahasa Indonesia


A. Pengenalan Semantik

Menurut Katz (1971:3) semantik adalah studi tentang makna bahasa. Sementara itu semantik menurut Kridalaksana dalam Kamus Linguistik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara. Secara singkat, semantik ini mengkaji tata makna secara formal (bentuk) yang tidak dikaitkan dengan konteks. Akan tetapi, ternyata ilmu yang mempelajari atau mengkaji makna ini tidak hanya semantik, ada juga pragmatik. Untuk membedakannya, berikut ini ada beberapa poin yang mudah untuk diingat dan dapat dengan jelas membedakan semantik dengan pragmatik.

Perbedaan kajian makna dalam semantik dengan pragmatik

1. Pragmatik mengkaji makna di luar jangkauan semantik
Contoh:
Di sebuah ruang kelas, Dewi duduk di deretan kursi belakang. Lalu, ia berkata kepada gurunya, “Pak, maaf saya mau ke belakang.”

Kata yang dicetak miring itu, yaitu kata ‘belakang’ secara semantik berarti lawan dari depan, berarti kalau dikaji secara semantik, Dewi hendak ke belakang. Akan tetapi, kalau kita lihat konteksnya, Dewi sudah duduk di deretan paling belakang. Tentu saja tidak mungkin makna ‘belakang’ yang diartikan secara semantik yang dimaksud Dewi. Nah, sekarang kita kaji dengan menggunakan pragmatik, di mana dalam pragmatik ini dilibatkan yang namanya “konteks”. Konteksnya apa? Konteksnya yaitu keadaan Dewi yang sudah duduk di belakang, sehingga tidak mungkin ia minta izin untuk ke belakang lagi (kita gunakan logika). Biasanya, orang minta izin ke belakang untuk keperluan sesuatu, seperti pergi ke toilet atau tempat lainnya. Nah, kalau yang ini masuk akal kan?
Jadi, makna kata ‘belakang’ dalam kalimat di atas tidak dapat dijelaskan secara semantik, hanya bisa dijelaskan secara pragmatik. Maka dari itulah dinyatakan bahwa kajian makna pragmatik berada di luar jangkauan semantik.

2. Sifat kajian dalam semantik adalah diadic relation (hubungan dua arah), hanya melibatkan bentuk dan makna. Sifat kajian dalam pragmatik adalah triadic relation (hubungan tiga arah), yaitu melibatkan bentuk, makna, dan konteks.

3. Semantik merupakan bidang yang bersifat bebas konteks (independent context), sedangkan pragmatik bersifat terikat dengan konteks (dependent context). Hal ini dapat dijelaskan pada contoh soal poin ke-1. Pada contoh tersebut, ketika makna kata ‘belakang’ dikaji secara semantik, ia tidak memperhatikan konteksnya bagaimana (independent context), ia hanya dikaji berdasarkan makna yang terdapat dalam kamus. Namun, ketika kata ‘belakang’ dikaji dengan pragmatik, konteks siapa yang berbicara, kepada siapa orang itu berbicara, bagaimana keadaan si pembicara, kapan, di mana, dan apa tujuannya ini sangat diperhatikan sehingga maksud si pembicara dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya.

4. Salah satu objek kajian semantik adalah kalimat, sehingga semantik ini sering disebut makna kalimat. Dalam pragmatik, objek kajiannya adalah tuturan (utterance) atau maksud.

5. Semantik diatur oleh kaidah kebahasaan (tata bahasa), sedangkan pragmatik dikendalikan oleh prinsip komunikasi. Jadi, kajian makna dalam semantik lebih objektif daripada pragmatik karena hanya memperhatikan makna tersebut sesuai dengan makna yang terdapat dalam leksemnya. Kajian makna pragmatik dapat dikatakan lebih subjektif karena mengandung konteks/memperhatikan konteks dan setiap orang pasti mempunyai makna sendiri sesuai dengan konteks yang dipandangnya. Selain itu, pragmatik juga dimotivasi oleh tujuan komunikasi. Pemaknaan semantik itu ketat karena terpaku pada makna kata secara leksikal (tanpa konteks), sedangkan pemaknaan pragmatik lebih lentur karena tidak mutlak bermakna “itu”.

6. Semantik bersifat konvensional, sedangkan pragmatik bersifat nonkonvensional. Dikatakan konvensional karena diatur oleh tata bahasa atau menggunakan kaidah-kaidah kebahasaan.

7. Semantik bersifat formal (dengan memfokuskan bentuk: fonem, morfem, kata, klausa, kalimat), sedangkan pragmatik bersifat fungsional.

8. Semantik bersifat ideasional, maksudnya yaitu makna yang ditangkap masih bersifat individu dan masih berupa ide karena belum dipergunakan dalam berkomunikasi, sedangkan pragmatik bersifat interpersonal, maksudnya yaitu makna yang dikaji dapat dipahami/ditafsirkan oleh orang banyak, tidak lagi bersifat individu karena sudah menggunakan konteks.

9. Representasi (bentuk logika) semantik suatu kalimat berbeda dengan interpretasi pragmatiknya.
Contoh: “Kawan, habis makan-makan kita minum-minum yuk…”
• Dikaji dari semantik, kata “minum-minum” berarti melakukan kegiatan ‘minum air’ berulang-ulang, tidak cukup sekali minum.
• Dikaji dari segi pragmatik, kata “minum-minum” berarti meminum minuman keras (alkohol).

B. Jenis Semantik


Penjelasan gambar di atas:
• Kalau objek kajian semantiknya adalah makna-makna gramatikal, maka jenis semantik ini disebut SEMANTIK GRAMATIKAL. Jenis semantik ini mengkaji satuan-satuan gramatikal yang terdiri atas sintaksis dan morfologi.

Konteks morfologi:
Kata ‘sepatu’ akan memiliki makna yang berbeda setelah mengalami proses morfologis, misalnya dengan afiksasi menjadi ‘bersepatu’.

Konteks sintaksis:
– Di kebun binatang ada enam ekor beruang.
– Hanya orang yang beruang yang dapat membeli rumah itu.
Perbedaan makna ‘beruang’ pada kalimat pertama dan kedua itu terjadi karena adanya perbedaan konteks kalimat yang dimasuki kata-kata tersebut.

• Pada fonologi tidak ada semantiknya, atau dengan kata lain fonologi tidak termasuk dalam jenis-jenis semantik karena fonologi hanya mampu membedakan makna kata dengan perbedaan bunyi.

• Kalau objek kajian semantiknya leksikon (kosakata) dari suatu bahasa, maka jenis semantiknya dinamakan SEMANTIK LEKSIKAL. Kajian semantik leksikal ini adalah makna utuh yang terdapat pada masing-masing leksikon tanpa terpengaruh proses apapun (proses morfologi maupun sintaksis).

• Dikatakan SEMANTIK WACANA kalau objek kajiannya adalah wacana. Tugas jenis semantik ini adalah mengkaji makna wacana. Pemaknaan suatu wacana tidak terlepas dari pola berpikir yang runtut dan logis.

C Kaidah Umum Semantik.

1. Hubungan antara leksem dengan acuannya bersifat arbitrer. Contoh: kata ‘kursi’ dengan media (yang sekarang kita ketahui wujudnya dan dinamakan kursi) itu tidak bersifat mutlak, tetapi arbitrer. Tidak ada alasan kenapa media tersebut dinamakan ‘kursi’.

2. Kajian waktunya ada yang sinkronik (melihat makna dalam kurun waktu tertentu sehingga maknanya bersifat tetap,, tidak mengalami perubahan baik dulu maupun sekarang) dan diakronik (melihat makna dalm kurun waktu panjang sehingga maknanya relatif berubah.) Contoh diakronik adalah kata ‘bapak’. Dahulu, kata ‘bapak’ digunakan pada seorang laki-laki yang mempunyai hubungan darah (dengan anaknya), sedangkan sekarang kata ‘bapak’ dapat digunakan pada seseorang yang tidak mempunyai hubungan darah sekalipun, belum tua, dan bahkan belum menikah, misalnya ‘Bapak guru’, ‘Bapak walikota’, ‘Bapak camat’, dsb.

3. Beda bentuk, beda makna.
Contoh kata ‘bisa’ dan ‘dapat’, di mana arti keduanya bersinonim. Akan tetapi, setelah keduanya mendapatkan proses morfologis, misalkan afiksasi ‘peN- + -an’, sehingga bentuknya menjadi ‘pembisaan’ dan ‘pendapatan’. Jelas sekali kata ‘dapat’ yang diberi proses morfologis itu lebih berterima daripada kata ‘bisa’ setelah mendapat proses morfologis.

4. Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri.
Contoh:
Kata ‘pipis’, dalam Bahasa Sunda kata tersebut berarti ‘air kencing’, tetapi dalam Bahasa Bali kata tersebut berati ‘uang jajan’. Contoh lainnya yaitu ‘kodok’, dalam Bahasa Sunda berarti ‘mengambil sesuatu dari sebuah lubang yang dalam’, sedangkan dalam Bahasa Indonesia berarti ‘katak’.

5. Makna berkaitan dengan pandangan hidup/budayanya.
Pada poin ini berkaitan dengan tabu atau tidaknya penggunaan kata tersebut di suatu masyarakat. Contoh kata ‘anjing’, bagi orang Islam kata ‘anjing’ dapat dimaknai sebagai sesuatu yang bernajis, tetapi bagi orang Kristen dapat dimaknai sebagai hewan yang lucu dan menggemaskan.

6. Luasnya bentuk ≠ luasnya makna.
Secara bentuk, semakin lebar (kata-kata yang digunakan) maka semakin sempit maknanya, begitu sebaliknya. Contoh:
Kereta
Kereta api
Kereta api ekspres
Bandingkan makna kata ‘kereta’ dengan makna yang terkandung dalam ‘kereta api ekspres’. Secara bentuk, kata ‘kereta’ lebih simpel daripada ‘kereta api ekspres’. Akan tetapi, secara makna, makna ‘kereta’ masih terlalu luas, apakah yang dimaksudkan itu kereta api, kereta uap, atau kereta apa. Sementara itu, makna ‘kereta api ekspres’ sudah jelas berarti kereta api khusus yang lajunya lebih cepat dan fasilitas serta pelayanannya lebih baik daripada kereta api ekonomi.

D. Penamaan dalam Semantik

Penamaan dalam semantik ini ada 8 penyebab yaitu sebagai berikut.
1. Peniruan bunyi, contohnya ‘tokek’ disebut demikian karena bunyi hewan tersebut adalah ‘tokek-tokek’. Penamaan sesuatu berdasarkan peniruan bunyinya disebut ONOMATOPE.
2. Penyebutan bagian, contoh “Ibu membeli empat ekor ayam” yang dimaksud kalimat tersebut pastilah bukan hanya ekor ayamnya saja yang dibeli ibu, tetapi ayam secara keseluruhan.
3. Penyebutan sifat khas, contoh ‘si kerdil’ karena anak tersebut tetap berbadan kecil, tidak tumbuh menjadi besar.
4. Penemu dan pembuat, contoh ‘Aqua’ dan ‘kodak’, kalau kita mau membeli air minum dalma kemasan, pasti kita akan berkata, “Pak, beli Aqua satu botol.” Padahal di toko tersebut tidak ada air minum kemasan bermerek Aqua. Demikian juga dengan ‘Kodak’ yang merupakan nama merek sebuah kamera.
5. Tempat asal, contoh kata ‘magnet’ berasal dari nama tempat Magnesia, nama burung ‘kenari’ diambil dari asal burung itu berada yaitu Pulau Kenari di Afrika, ikan ‘sarden’ berasal dari Pulau Sardinia di Italia. Ada juga nama piagam atau perjanjian-perjanjian besar seperti ‘Piagam Jakarta’ karena tempatnya di Jakarta, ‘Perjanjian Linggarjati’ karena pelaksanaan perjanjian tersebut di Linggarjati.
6. Bahan, contoh nama karung ‘goni’ karena bahan karung tersebut dari goni, dan ‘bambu runcing’ karena benda tersebut terbuat dari bambu dan ujungnya runcing.
7. Keserupaan, perhatikan contoh ‘kaki’, ‘kaki gunung’, ‘kaki kursi’, dan ‘kaki meja’, hal yang sama dari empat contoh tersebut adalah letaknya, di mana letak kaki selalu ada di bawah. Contoh lain misalnya ‘kepala’, ‘kepala masinis’, ‘kepala sekolah’, dan ‘kepala surat’, hal yang sama pada kata-kata tersebut yaitu letaknya, di mana letak kepala selalu berada di atas. Kepala surat selalu diletakkan di bagian atas kan? ^^
8. Pemendekan, contoh ‘UPI’ menjadi nama sebuah universitas negeri di Bandung, padahal namanya bukan UPI, tetapi Universitas Pendidikan Indonesia. Contoh lain yaitu ‘cireng’ yang menjadi nama sebuah makanan ringan, ‘cireng’ merupakan kependekan dari ‘aci goreng’.

E. Aspek Makna

Aspek makna dibedakan atas empat macam yaitu pengertian (sense), perasaan (feeling), nada(tone), dan maksud atau tujuan (intention). Pengertian sense sama dengan tema. Perasaan berkaitan dengan sikap pembicara terhadap apa yang sedang dibicarakan serta bagaimana situasi pembicaraan saat itu. Nada adalah sikap pembicara terhadap lawan bicaranya. Maksud adalah hal yang mendorong pembicara untuk mengungkapkan satuan-satuan bahasa. Contohnya yaitu “Hari ini panas”, apabila orang yang diajak berbicara itu menanggapinya dengan hal lain seperti meminta minum, maka akan berbeda pula dengan maksud di penutur (hanya memberi tahu bahwa hari ini cuacanya panas).

F. Jenis Makna


Makna leksikal adalah makna yang terdapat pada kata tersebut secara utuh, sesuai dengan bawaannya. Contoh “Tikus itu mati diterkam kucing”, makna kata ‘tikus’ pada kalimat tersebut adalah ‘binatang tikus’, bukan yang lainnya.

Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apa pun.

Makna generik adalah makna konseptual yang luas, umum, yang mencakup beberapa makna konseptual yang khusus maupun umum. Contoh kata ‘sekolah’ dalam kalimat “Sekolah kami menang”, bukan hanya gedung sekolahnya saja yang menang, tetapi juga mencakup guru-gurunya, muridnya, dan warga sekolah lainnya. Bila kita berkata, “Ani sekolah di Lampung”, hal ini sudah tidak dapat dikaitkan dengan makna konseptual sekolah, tetapi sudah lebih luas yaitu Ani belajar di gedung yang namanya sekolah dan sekolah tersebut berada di Lampung.

Makna spesifik adalah makna konseptual yang khusus, khas, dan sempit. Contoh pada kalimat “Pertandingan sepak bola itu berakhir dengan kemenangan Bandung”, yang dimaksud hanya beberapa orang yang bertanding saja, bukan seluruh penduduk Bandung.

Makna asosiatif disebut juga makna kiasan. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. Contoh kata ‘bunglon’ berasosiasi dengan makna ‘orang yang tidak berpendirian’, kata ‘lintah darat’ berasosiasi dengan makna ‘orang yang suka memeras (pemeras) atau pemakan riba’.

Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar leksikalnya.

Makna afektif adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atua pembaca terhadap penggunaan bahasa. Contoh “datanglah ke pondok buruk kami”, gadungan ‘pondok baru kami’ mengandung makna afektif ‘merendahkan diri’.

Makna stilistika adalah makna yang timbul akibat pemakaian bahasa. Makna stilistika berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama kepada pembaca. Makna stilistika lebih dirasakan di dalam karya sastra.

Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaan beberapa kata di dalam lingkungan yang sama. Contoh kata-kata ikan, gurame, sayur, tomat, minyak, bawang, telur, garam, dan cabai tentunya akan muncul di lingkungan dapur. Contoh lain yaitu bantal, kasur, bantal guling, seprei, boneka, selimut, dan lemari pakaian tentu akan muncul di lingkungan kamar tidur.

Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Dalam Bahasa Indonesia ada dua macam idiom yaitu IDIOM PENUH dan IDIOM SEBAGIAN. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan merupakan satu-kesatuan dengan satu makna. Contoh “Orang tua itu membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan anaknya”, ungkapan ‘membanting tulang’ dalam kalimat tersebut tentu memiliki satu kesatuan makna yaitu ‘kerja keras’. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalam unsur-unsurnya masih terdapat unsur yang memilikii makna leksikal. Contoh ‘daftar hitam’ yang berarti ‘daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai atau dianggap bersalah’.

Makna kontekstual muncul sebagai akibat adanya hubungan antara ujaran dengan situasi. Contoh “Saya lapar, Bu, minta nasi!” yang berarti orang tersebut berada dalam situasi yang benar-benar lapar dan ia meminta nasi.

Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat berfungsiinya sebuah kata dalam suatu kalimat. Contoh kata ‘mata’, secara leksikal bermakna alat/indera yang berfungsi untuk melihat, tetapi setelah digabung dengan kata-kata lain menjadi ‘mata pisau’, ‘mata keranjang’, ‘mata air’, ‘air mata’, dan ‘mata duitan’ maka maknanya akan berubah menjadi makna gramatikal.

Makna tematikal adalah makna yang dikomunikasikan oleh pembicara/penulis melalui urutan kata-kata, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan. Contoh “Aminah anak Bapak Roni meninggal dunia kemarin”, makna dari kalimat tersebut bisa ada tiga yaitu:
(1) Aminah/anak Bapak Roni/meninggal kemarin.
(2) Aminah!/anak Bapak Roni meninggal kemarin.
(3) Aminah/anak/Bapak/Roni/meninggal kemarin.

Makna kalimat (1) adalah anak Bapak Roni yang bernama Aminah telah meninggal kemarin, kalimat (2) berarti sebuah informasi memberi tahu Aminah bahwa anak Bapak Roni yang entah siapa namanya telah meninggal kemarin, dan kalimat (3) berarti ada emmpat orang yang meinggal kemarin yaitu Aminah, anak, Bapak, dan Roni.

G. Relasi Makna
Relasi makna adalah hubungan antara makna kata yang satu dengan makna kata yang lainnya.Prinsip relasi makna ada empat yaitu prinsip kontiguitas, prinsip komplementasi, prinsip overlaping, dan prinsip inklusi. PRINSIP KONTIGUITAS adalah prinsip yang menjelaskan bahwa beberapa kata dapat memiliki makna yang sama/mirip; prinsip ini dapat menimbulkan relasi makna yang disebut SINONIMI. PRINSIP KOMPLEMENTASI adalah prinsip yang menjelaskan bahwa makna kata yang satu berlawanan dengan makna kata yang lainnya; prinsip ini dapat menimbulkan relasi makna yang disebut ANTONIMI. PRINSIP OVERLAPING adalah prinsip yang menjelaskan bahwa satu kata memiliki makna yang berbeda, atau kata-kata yang sama bunyinya tetapi berbeda maknanya; prinsip ini menimbulkan adanya relasi makna yang disebut HOMONIMI dan POLISEMI.PRINSIP INKLUSI adalah prinsip yang menjelaskan bahwa makna satu kata mencakup beberapa mekna kata lain; prinsip ini dapat menimbulkan adanya relasi makna yang disebut HIPONIMI.

Contoh sinonimi:
• Pintar, pandai, cerdik, cerdas, cakap
• Cantik, molek, bagus, indah, permai
• Bunga, kembang, puspa
• Aku, saya, beta, hamba

Contoh antonimi:
• Kuat >< dingin

Contoh homonimi:
a) Homonimi yang berhomograf dan berhomofon:
• bisa = (1) sanggup/dapat, (2) racun ular
• buku = (1) media untuk menulis/membaca, (2) bagian tekukan pada jari-jari

b) Homonimi yang tidak berhomograf (homofon):
• bang = bentuk singkat dari ‘abang’ yang berarti kakak laki-laki
• bank = lembaga yang mengurus lalu lintas uang
• sangsi = ragu-ragu, bimbang
• sanksi = hukuman, konsekuensi, akibat
• sah = dilakukan menurut hukum
• syah = raja
• syarat = ketentuan
• sarat = penuh

c) Homonimi yang tidak berhomofon (homograf):
• teras = pegawai utama
• teras [tѐras] = halaman depan rumah, lantai rumah tempat bersantai
• apel = nama buah
• apel [apѐl] = upacara resmi
• tahu [tau] = mengerti, paham
• tahu = nama makanan yang terbuat dari kedelai yang digiling halus


contoh hiponimi:


Hubungan antar hiponim (merah, kuniing hijau) disebut kohiponim.

Contoh polisemi:
• kepala (karena selalu terletak di bagian atas/tertinggi posisinya, contoh kepala suku, kepala surat, kepala sekolah)
• mulut (sebagai jalan masuk dan letaknya selalu di depan, contoh mulut gua, mulut harimau, mulut gang, mulut botol)
• bibir (terletak di tepian, contoh bibir sungai)

Referensi:
Fasha, M., Sitaresmi, N. (2011). Pengantar Semantik. Bandung: UPI PRES

BACA SELENGKAPNYA → Semantik Bahasa Indonesia

PENGERTIAN LARUTAN


Hasil gambar untuk pengertian larutan

    Setiap hari sobat selalu berhubungan dengan air yang digunakan untuk minum, mandi, mencuci, dan keperluan lainnya. Semua air yang sobat gunakan tersebut sudah dalam bentuk larutan. Di alam, semua air berupa larutan, tidak ada air dalam keadaan murni (sebagai H2O). Jika ada, itu merupakan hasil rekayasa manusia.

    Apa yang dimaksud dengan larutan?
Larutan didefinisikan sebagai campuran dua atau lebih zat yang membentuk satu macam fasa (homogen) dan sifat kimia setiap zat yang membentuk larutan tidak berubah. Arti homogen menunjukkan tidak ada kecenderungan zat-zat dalam larutan terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu, melainkan menyebar secara merata di seluruh campuran. Sifat-sifat fisika zat yang dicampurkan dapat berubah atau tidak, tetapi sifat-sifat kimianya tidak berubah.
Contoh:
Larutan dari campuran alkohol dan air. Sifat fisika dan kimia setiap zat tidak berubah.
Larutan dari campuran gula pasir dan air. Sifat fisika gula berubah dari kristalin menjadi molekuler, tetapi sifat-sifat kimianya tidak berubah.
Larutan dari campuran NaCl dan air. Sifat-sifat fisika NaCl berubah dari kristalin menjadi ion-ionnya, tetapi sifat kimia NaCl tidak berubah.

    Ada dua komponen yang berhubungan dengan larutan, yaitu pelarut dan zat terlarut. Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Umumnya, pelarut merupakan jumlah terbesar dari sistem larutan. Zat terlarut adalah komponen dari larutan yang memiliki jumlah lebih sedikit dalam sistem larutan. Selain ditentukan oleh kuantitas zat, istilah pelarut dan terlarut juga ditentukan oleh sifat fisikanya (struktur). Pelarut memiliki struktur tidak berubah, sedangkan zat terlarut dapat berubah.
Contoh:

    Sirup tergolong larutan. Di dalam sirup, jumlah air lebih banyak daripada gula. Oleh karena struktur air tidak berubah (air tetap berupa cair), sedangkan struktur gula berubah dari kristalin menjadi molekuler. Air tetap dinyatakan sebagai pelarut.

     Larutan tidak terbatas pada sistem cairan, dapat juga berupa padatan atau gas. Udara di atmosfer adalah contoh larutan sistem gas (pelarut dan terlarut berwujud gas). Logam kuningan adalah contoh sistem larutan padat (campuran tembaga dan seng).

BACA SELENGKAPNYA → PENGERTIAN LARUTAN

HUBUNGAN KEMAGNETAN DAN KELISTRIKAN


Hasil gambar untuk Hubungan gejala kelistrikan dengan gejala kemagnetan
    Ada dua hukum dasar yang menghubungkan gejala kelistrikan dan kemagnetan.
Pertama, arus listrik dapat menghasilkan (menginduksi) medan magnet. Ini dikenal sebagai gejala induksi magnet. Peletak dasar konsep ini adalah Oersted yang telah menemukan gejala ini secara eksperimen dan dirumuskan secara lengkap oleh Ampere. Gejala induksi magnet dikenal sebagai Hukum Ampere
Michael Faraday, penemu induksi elektromagnetik
Kedua, medan magnet yang berubah-ubah terhadap waktu dapat menghasilkan (menginduksi) medan listrik dalam bentuk arus listrik. Gejala ini dikenal sebagai gejala induksi elektromagnet. Konsep induksi elektromagnet ditemukan secara eksperimen oleh Michael Faraday dan dirumuskan secara lengkap oleh Joseph Henry. Hukum induksi elektromagnet sendiri kemudian dikenal sebagai Hukum Faraday-Henry.
Dari kedua prinsip dasar listrik magnet di atas dan dengan mempertimbangkan konsep simetri yang berlaku dalam hukum alam, James Clerk Maxwell mengajukan suatu usulan. Usulan yang dikemukakan Maxwell, yaitu bahwa jika medan magnet yang berubah terhadap waktu dapat menghasilkan medan listrik maka hal sebaliknya boleh jadi dapat terjadi. Dengan demikian Maxwell mengusulkan bahwa medan listrik yang berubah terhadap waktu dapat menghasilkan (menginduksi) medan magnet. Usulan Maxwell ini kemudian menjadi hukum ketiga yang menghubungkan antara kelistrikan dan kemagnetan.

          James Clerk Maxwell peletak dasar teori gelombang elektromagnetik
Jadi, prinsip ketiga adalah medan listrik yang berubah-ubah terhadap waktu dapat menghasilkan medan magnet. Prinsip ketiga ini yang dikemukakan oleh Maxwell pada dasarnya merupakan pengembangan dari rumusan hukum Ampere. Oleh karena itu, prinsip ini dikenal dengan nama Hukum Ampere-Maxwell.
         Dari ketiga prinsip dasar kelistrikan dan kemagnetan di atas, Maxwell melihat adanya suatu pola dasar. Medan magnet yang berubah terhadap waktu dapat membangkitkan medan listrik yang juga berubah-ubah terhadap waktu, dan medan listrik yang berubah terhadap waktu juga dapat menghasilkan medan magnet. Jika proses ini berlangsung secara kontinu maka akan dihasilkan medan magnet dan medan listrik secara kontinu. Jika medan magnet dan medan listrik ini secara serempak merambat (menyebar) di dalam ruang ke segala arah maka ini merupakan gejala gelombang. Gelombang semacam ini disebut gelombang elektromagnetik karena terdiri dari medan listrik dan medan magnet yang merambat dalam ruang.
Pada mulanya gelombang elektromagnetik masih berupa ramalan dari Maxwell yang dengan intuisinya mampu melihat adanya pola dasar dalam kelistrikan dan kemagnetan, sebagaimana telah dibahas di atas. Kenyataan ini menjadikan J C Maxwell dianggap sebagai penemu dan perumus dasar-dasar gelombang elektromagnetik.

          Teori Maxwell tentang listrik dan magnet meramalkan adanya gelombang elektromgnetik
Ramalan Maxwell tentang gelombang elektromagnetik ternyata benar-benar terbukti. Adalah Heinrich Hertz yang membuktikan adanya gelombang elektromagnetik melalui eksperimennya. Eksperimen Hertz sendiri berupa pembangkitan gelombang elektromagnetik dari sebuah dipol listrik (dua kutub bermuatan listrik dengan muatan yang berbeda, positif dan negatif yang berdekatan) sebagai pemancar dan dipol listrik lain sebagai penerima.

      Melalui eksperimennya ini Hertz berhasil membangkitkan gelombang elektromagnetik dan terdeteksi oleh bagian penerimanya. Eksperimen ini berhasil membuktikan bahwa gelombang elektromagnetik yang awalnya hanya berupa rumusan teoritis dari Maxwell, benar-benar ada sekaligus mengukuhkan teori Maxwell tentang gelombang elektromagnetik

Sumber : http://jendelakuuuu.blogspot.co.id/2013/12/hubungankemagnetan-dan-kelistrikan-ada.html
BACA SELENGKAPNYA → HUBUNGAN KEMAGNETAN DAN KELISTRIKAN

Kamis, 22 Oktober 2015

BACA SELENGKAPNYA

FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PENDIDIKAN MENURUT KERUCUT PENGALAMAN DALE



Pendahuluan


Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.


Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal di sekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkakn perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannnya, yang antara lain terdiri atas murid, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran (buku, modul, selebaran, majalah, rekaman video atau audio, dan yang sejenisnya), dan berbagai sumber belajar dan fasilitas (proyektor overhead, perekam pita audio dan video, radio, televisi, komputer, perpustakaan, laboratorium, pusat sumber belajar, dan lain-lain).


Menurut Hamalik dalam Arsyad (2002:2) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahajka tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengambangkan keterampilan membuat media pengajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pengajaran.


Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran disekolah pada khususnya.


Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.

Menurut Gerlach dan Ely dalam Arsyad (2002:3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyususn kembali informasi visual atau verbal.

Menurut AECT (Association of Education and Communication Technology) dalam Arsyad (2002:3) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran.

Landasan Teoritis Penggunaan Media Pendidikan

Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bruner dalam Arsyad (2002:7) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman piktorial/gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic).

Pengalaman langsung adalah mengerjakan, misalnya arti kata simpul dipahami dengan langsung mebuat simpul. Pada tingkatan kedua yang diberi label iconic (artinya gambar atau image), kata simpul dipelajari dari gambar, lukisan, foto, atau film. Meskipun siswa belum pernah mengikat tali untuk membuat simpul mereka dapat mempelajari dan memahaminya dari gambar, lukisan, foto, dan film. Selanjutnya, pada tingkatan simbol, siswa membaca (atau mendengar) kata simpul dan mencoba mencocokkannya dengan simpul pada image mental atau mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul. Ketiga tingkat pengalaman ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh pengalaman (pengetahuan, keterampilan, atau sikap) yang baru.

Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar adalah Dale’s Cone of Exsperience (Kerucut Pengalaman Dale). Kerucut pengalaman Dale tidak hanya menyajikan keefektikan pembelajaran yang disampaikan melalui media pendidikan akan tetapi bagaimana suatu proses pembelajaran mampu disajikan dengan teknik/metode pembelajaran yang tepat. Baik itu teknik, lingkungan maupun media pendidikan termasuk ke dalam sumber belajar. Berikut kerucut pengalaman Dale yang menyajikan teknik yang sesuai dengan proses pembelajaran dan sesuai dengan pengalaman inderawi.




Kerucut Pengalaman Dale

Dari penjelasan diatas didapat bahwa ingatan/retensi seseorang yang diperoleh melalui kegiatan pembelajaran adalah:
  1. 10% dari apa yang mereka baca, di dalam kerucut Dale yaitu penerimaan Verbal yang dibaca. 
  2. 20% dari apa yang mereka dengar, didapat melalui pendengaran kata-kata 
  3. 30% dari apa yang mereka lihat, didapat melalui kegiatan melihat gambar, memperhatikan gambar visual yang bergerak, dan melihat pameran. 
  4. 50% dari apa yang mereka dengar dan lihat, diperoleh melalui kegiatan melihat demonstrasi. 
  5. 70% dari apamelakukan kunjungan, kegiatan kunjungan ini meliputi berbicara, dramatisasi (mendengar, menulis, mengatakan dan melihat) 
  6. 90% dari apa yang disimulasikan melalui pengalaman nyata, pengalaman ini diperoleh langsung dengan melihat, meraba, merasakan sesuatu benda yang nyata. 

Ciri-ciri Media Pendidikan

Menurut Gerlach dan Ely dalam Arsyad (2002:11) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya, yaitu:
Ciri fiksatif (Fixcative Proferty). Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, mnyimpan, melestarikan, dan merekontruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu peritiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, video tape, audio tape, disket komputer, dan film. Ciri ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian atau objek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat.
Ciri manipulatif (Manipulative Proferty). Transpormasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Manipulasi kejadian atau objek dengan jalan mengedit hasil rekaman dapat menghemat waktu.
Ciri distributif (Distributive Proferty). Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian itu. Sekali informasi direkam dalam format media apa saja ia dapat direproduksi seberapa kali pun dan siap digunakan secara bersamaan di berbagai tempat atau digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat. Konsistensi informasi yang telah direkam akan terjamin sama atau hampir sama dengan aslinya.


Fungsi dan Manfaat Media Pendidikan
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang susai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisis, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.

Dale dalam Arsyad (2002:24) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam sistem pendidikan modern saat ini. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi:
  1. Meningkatkan rasal saling pengertian dan simpati dalam kelas. 
  2. Membuahkakn perubahan signifikan tingkah laku siswa. 
  3. Menunjukkan hubungan antara mata pelajaran dan kebutuhan dan minat siswa dengan meningkatkan motivasi belajar siswa. 
  4. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar. 
  5. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi pengalaman belajar siswa. 
  6. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar. 
  7. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajari. 
  8. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang bermakna dapat dikembangkan. 
  9. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran nonverbalistik dan membuat generalisasi yang tepat. 
  10. Meyakinkan siri bahwa urutan dan kejelasn pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan sistem gagasan yang bermakna. 

Menurut Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik yang dikutib kembali dalam Arsyad (2002:25) merinci manfaat media pendidikan sebagi berikut:
  1. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme. 
  2. Memperbesar perhatian siswa. 
  3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. 
  4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. 
  5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu terutama melalui gambar hidup. 
  6. Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa. 
  7. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar. 






Sumber : http://rosdianablog.blogspot.co.id/2013/06/fungsi-dan-manfaat-media-pendidikan.html
BACA SELENGKAPNYA → FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PENDIDIKAN MENURUT KERUCUT PENGALAMAN DALE

Rabu, 21 Oktober 2015

Tangis Kemenangan Menjelang Ramadhan

          
Pagi itu, Jum’at 30 Juli 2010, Bu Kesi guru kelas 6 bercerita bahwa kemarin wali murid Vivi datang kerumahnya, katanya Vivi minta pindah sekolah. Saya yang ikut mengajar kelas 6 Mata Pelajaran IPA agak terkejut. “Apa dia mau ikut orang tuanya ke Sumatra Bu? sayang karena sudah kelas 6 bu kalau boleh kita tahan dulu sampai lulus.” Cerocosku karena murid kami biasa pindah ikut orang tuanya ke Sumatra.
“Masalahnya bukan itu Pak, Kemarin Bu Dhenya cerita katanya Vivi dikucilkan teman-temannya.” Saya terkejut “seingat saya di kelas 5 Vivi termasuk anak yang baik bahkan kalau saya bandingkan dengan teman-temannya dialah yang paling baik sikapnya”.  Saya faham karena waktu kelas 5 sayalah wali kelasnya.
 “saya juga terkejut Pak, saya juga menilai demikian.” Sambung Bu Kesi yang juga ikut mengampu Bahasa Indonesia waktu kelas 5.
“Alasannya apa bu kok sampai Vivi dikucilkan teman-teman.”
“kata Bu Dhenya sih penyakit kulitnya itu.”
Saya semakin terkejut, memang Vivi punya penyakit kulit saya juga paham, semacam koreng-koreng kecil tapi saya kira tidak menular dan kelihatannya sudah sembuh hanya bekasnya yang kelihatan belang kecil-kecil.
“Terus gimana tanggapan jenengan pada bu dhenya Vivi.”
“Saya suruh tenang aja biar masalah ini saya selesaikan, biasa masalah anak-anak. Saya juga nasehati, Vivi sudah kelas 6 yang akan menempuh Ujian, di tempat yang baru perlu adaptasi, dan ini bisa mempengaruhi prestasi Vivi.”
“Terus gimana tanggapannya?”
“Bu Dhenya sih, pinginnya seperti itu juga, nggak usah pindah biar diselesaikan bu guru, cuma Vivinya katanya nangis aja minta pindah.”
“Ya bu, Insya Allah nanti saya bantu selesaikan, kita cari penyebabnya dulu karena di kelas-kelas 5 masalah ini nggak timbul mengapa tiba-tiba muncul pasti ada penyebabnya.”
Pembicaraan berhenti karena sudah jam 07.00 WIB waktunya pelajaran dimulai. Kami pun masuk kelas masing-masing. Dari kantor ke kelas V melewati kelas VI saya coba melirik melalui jendela kaca. Saya lihat Vivi sedang duduk, kelihatan wajahnya memendam kesedihan yang dalam. Nggak tega rasanya melihat wajahnya yang memelas. Di kelas V Vivi termasuk murid yang aktif, penurut, walaupun hanya menduduki peringkat 3 namun sikapnya yang baik membuat saya perhatian sama dia.
Jam 08.45 WIB bel berbunyi waktunya anak-anak istirahat. Sengaja saya tidak keluar dulu, saya ingin melihat aktivitas anak-anak kelas VI waktu istirahat dari jendela kaca kelas V. Hati saya bagaikan tersayat melihat Vivi bermain dengan adik sepupunya (kelas I). Sementara anak-anak putri kelas VI bersendau gurau tanpa mempedulikan Vivi.
Saya bergegas ke kantor, sampai di kantor rekan-rekan guru sudah hangat membicarakan masalah itu. Saya mendekati Bu Kesi “Bu, gimana tadi?” tanyaku.
“Tadi  anak-anak sudah saya nasehati, tapi secara umum. Yah, saya singgung masalahnya  tapi belum saya katakan terus terang. Saya coba memanggil Eka tadi supaya ikut ke kantor setelah saya tanya ternyata memang ada Provokatornya.”
“Yayas” tebak saya sebelum Bu kesi menjelaskan
“Tepat!, terus gimana solusinya Pak?”
“O...Yayas memang di rumah pun berani membantah omongan ibunya” sambung Bu Jarmi guru kelas I.
Saya merenung sejenak, ingatan saya kembali waktu mereka masih kelas V. Sikap Yayas memang agak urakan, keras, dan kadang-kadang keluar kata-kata yang taksepantasnya digunakan dalam pergaulan. Banyak temannya yang nggak suka, bahkan mereka pernah mendiamkannya, saya biarkan karena saya fikir biarlah menjadi pelajaran baginya supaya bisa mengubah sikapnya. Mengapa sekarang terbalik ya ? Yayas anaknya memang pandai dalam hal Hapalan, sehingga waktu ada lomba LCC tingkat kecamatan (menjadi juara 3) sempat saya seleksi antara Vivi dan Yayas untuk menemani Ella dan Kiky, ternyata Yayas lebih baik hapalannya, demi prestasi saya memilih Yayas walau sebenarnya dalam hati pingin Vivi yang ikut. Dalam peringkat kelas Yayas dan Vivi selalu bersaing diperingkat 3 dan 4.
“Gimana Pak Mar? Kok malah bengong!”
Saya tersentak dari lamunan “Oh, ya ... gimana Kalau kita panggil anak-anak yang dulu pernah akrab dengan Vivi, kita beri penjelasan dan nasehat agar tidak mengucilkan Vivi lagi”
“Kalau gitu besok biar saya panggil, kira-kira siapa ya?”
“Ella, Eka, Dian terus Indah.” Usulku.
Paginya Bu Kesi betul-betul memanggil sebagian anak-anak putri  ke Perpustakaan mereka dinasehati. Yang intinya jangan lagi mengucilkan Vivi.
Sesampainya dari perpustakaan Bu Kesi ku sapa “Gimana Bu?”
“Dah kok, Pak Mar Nggak ikut nasehati mereka?”
“Besok aja bu kalau anak-anak dah selesai lomba MAPSI di Winong, karena sebagian kelas 6 kan dah persiapan lomba MAPSI, saya takut malah memecah konsentrasi mereka. Biarlah kita lihat reaksi anak-anak yang telah njenengan nasehati. Kalau dah baik ya saya tinggal kasih motivasi nanti.”
Di tengah-tengah kesibukan anak-anak kelas VI mempersiapkan lomba MAPSI dibawah bimbingan guru agama, saya coba untuk memantau reaksi dari tindakan awal yang telah dilakukan Bu Kesi, terutama di waktu istirahat. Ternyata belum ada perubahan, Vivi masih bermain dengan sepupunya sementara teman-temannya bergerombol sendiri, bersendau gurau tanpa merasa punya beban apa-apa.
Melihat kenyataan ini Bu Kesi minta pertimbangan pada saya. “Gimana Pak, kok kelihatannya masih belum berubah!”
“Dah biarkan aja dulu Bu, Jangan dijadikan masalah dulu di dalam kelas, Biar anak-anak konsentrasi dulu menghadapi lomba MAPSI yang penting Vivi masih bertahan tidak minta pindah. Nanti setelah lomba biar saya yang bicara ama anak-anak.
Waktu terus berlalu, lomba MAPSI pun tiba walaupun hasilnya belum memuaskan sekolah setidak-tidaknya mereka sudah berusaha sebik-baiknya tanpa ada beban masalah yang mengganggunya. Sementara masalah Vivi masih menjadi beban tersendiri bagi dirinya, saya takut jika tidak segera diatasi akan berpengaruh pada prestasinya.
Hari ini hari senin wage, tanggal 9 Agustus 2010 bertepatan dengan tanggal 28 Sya’ban 1431 H, berarti dua hari lagi bulan Ramadhan. Momen ini saya rasa paling tepat untuk berbicara pada anak-anak kelas 6 karena besok pagi sudah mulai libur awal Ramadhan.
Kebetulan setelah Upacara Hari Senin  jam pertama dan ke-dua saya mengajar IPA di kelas VI. Ini adalah kesempatan saya untuk membantu menyelesaikan masalahnya Vivi. Seperti biasa setelah mengabsen anak-anak saya tanya kabar mereka. Kelihatannya mereka ceria sementara mata saya melirik ke Vivi masih kelihatan memendam duka.
“Anak-anak dua hari lagi kita akan masuk bulan Ramadhan besuk pagi kalian sudah mulai libur awal Ramadhan. Hari ini Pak Mar tidak akan mengajar atau memberi pelajaran IPA. Pak Mar ingin bicara dari hati ke hati dengan kalian.”
            “Kalian nanti puasa nggak?” mendengar pertanyaan saya kelas menjadi ramai. Ada yang menjawab Insya Allah ada yang kelihatan ragu-ragu ada yang menjawab puasa setengah hari pak. Maklum kebanyakan dari mereka ikut nenek dan kakeknya sementara orang tuanya merantau, jadi masalah-masalah ibadah masih kurang mendapat perhatian. Di tengah hiruk pikuknya anak-anak menanggapi pertanyaan yang saya lontarkan saya lihat Vivi masih diam seribu bahasa.
“Anak-anak sebelum kita puasa ada baiknya kita instropeksi diri dulu, mengaca pada diri sendiri apakah yang telah kita lakukan selama ini. Apakah pernah kita selama ini menyakiti hati orang lain, terutama pada orang tua kita. Maka wajib bagi kita untuk meminta maaf sebelum menjalankan puasa.”
“Anak-anak kita diciptakan Tuhan berbeda-beda ada yang cantik ada yang kurang cantik, ada yang pandai ada yang kurang pandai, ada yang kaya ada yang kurang kaya. Apakah ini pertanda Allah tidak adil anak-anak? Tidak anak-anak, justru inilah keadilan Tuhan, supaya kita saling mengisi membantu kekurangan orang lain. Jangan malah mencaci atau mengejek kekurangan orang lain”.
            Kelihatanya anak-anak putra agak bingung. Tapi saya lihat ada sebagian anak putri yang mulai tanggap dengan arah pembicaraan saya. Sementara Yayas dan teman yang dekat gojek sendiri seakan tidak mau terlibat pembicaraan saya. Saya gebrak meja walaupun tidak keras cukup membuat kelas senyap.
“Kalau ingin dihargai orang lain cobalah menghargai orang lain. Jangan Sombong karena kelebihan yang kalian punya saat ini.” Emosiku mulai terusik dengan sikap mereka yang meremehkan pembicaraanku.”
“Baiklah saya terus terang saja. Mengapa Pak Mar hari ini bicara seperti ini. Pak Mar mendapat SMS dari kakak kelas kalian yang sekarang duduk di kelas 1 SMP kalian nggak perlu tahu siapa yang kirim, yang jelas isinya Pak Mar dimintai tolong mendamaikan kalian yang lagi berseteru. Pak Mar dah Jawab SD kita damai-damai aja kok.”
“Saya nggak ingin tahu siapa yang salah siapa yang benar, tapi coba kita bicara dari hati-ke hati. Bukalah pendengaran hati kalian. Benarkan apa yang benar dan salahkan apa yang salah.”
Mulailah saya bercerita tentang pengalaman yang pernah saya alami, “anak-anak badan Pak Mar waktu SD dulu kurus sekali, keadaan seperti ini yang membuat sebagian temanku kadang-kadang  mengejekku. Apakah Pak Mar tidak sakit hati anak-anak? Sama seperti anak-anak, Pak Mar seketika juga sakit hati. Tapi haruskah aku membalas dengan ejekan. Pak Mar biasaya hanya menangis ketika sendirian. Biarlah Pak Mar dikatakan cengeng, yang penting Pak Mar tidak menyakiti orang lain. Pak Mar punya prinsip kalau kita di cubit masih merasakan sakit janganlah mencubit orang lain. Kalau kita diejek orang masih sakit hati maka jangan mengejek orang”.
Saya melihat Vivi menyeka air mata, sebagian anak putri yang lain pun mulai ikut meneteskan air mata, mungkin mereka yang pernah merasakan ejekan dari teman-teman yang lain. anak laki-laki ada yang nyelethuk “gitu aja nangis!”. Saya biarkan aja karena sudah kebiasaan anak laki-laki tersebut suka berceloteh.
“anak-anak kalau kalian ingin nangis menangislah, itu tandanya hati kalian tidak keras masih mau menerima nasehat. Kalau kalian menghelehkan nasehat-nasehat baik itu tandanya hati kalian keras. Dan hati-hatilah dengan hati yang keras, karena itulah yang akan membawa sengsara dalam hidup.”
“Anak-anak Pak Mar ulang sekali lagi, Pak Mar tidak ingin tahu siapa yang salah  dan siapa yang benar. Yang Pak Mar inginkan kalian menyadari siapa diri kita ini. Janganlah  ada yang merasa diri kita lebih dari yang lain. Karena itu akan menimbulkan kesombongan, dan Allah membenci orang-orang yang sombong. Ingat cerita Iblis, mengapa iblis diusir Allah dari Surga?  Itu adalah gara-gara Iblis merasa lebih baik dari Adam dan tidak mau melaksanakan perintah Allah agar sujud pada Adam sebagai tanda hormat. Akhirnya Allah mengusir Iblis dari Surga. Yang sudah ada di surga saja diusir Allah karena sombong apalagi kita yang tak pernah di surga, kalau kita sombong kira-kira Allah ngijinin nggak kita masuk surga? Sebuah pertanyaan yang tak perlu jawaban saya lontarkan.
“Anak-anak seharusnya kita merasa lebih hina dari siapapun dengan begitu kita akan hormat pada siapapun.” Saya biarkan yang ingin menangis bahkan saya persilahkan.
“Anak-anak Pak Mar punya cerita yang bisa kalian ambil hikmahnya. Cerita ini betul-betul terjadi. Ketika Pak Mar merantau di Malaysia ada anak kampung sebaya kalian juga masih duduk di Darjah Lima, ya sama dengan kalas lima. Anaknya cantik, Pak Mar lihat sendiri. Tetapi sayang dia sombong, tidak mengindahkan sopan santun pada orang yang lebih tua. Sampai guru sekolahnya pun katanya tidak suka sama si anak itu. Ya karena sikapnya yang tidak baik. Suatu saat dia naik motor kecelakaan sehingga membuatnya lumpuh, dan hanya bisa duduk di kursi roda. Jangankan untuk mandi buang air besar dan air kecil pun harus dibantu. Coba kalian renungkan cerita ini”
“Kecantikan, kekayaan, kecerdasan adalah nikmat yang harus kita syukuri bukan malah kita sombongkan karena semua itu tidak kekal. Ketika Allah sudah mengambilnya maka yang tinggal hanya kehinaan. Yang diberikan kecerdasan jangan meremehkan yang kurang cerdas, karena ternyata bersamaan dengan berjalannya waktu banyak teman-teman Pak Mar yang waktu sekolahnya kurang cerdas menjadi orang sukses. Dan ada pula yang termasuk cerdas tapi diwaktu sekolah sombong meremehkan teman-teman sekarang tidak sukses, malu rasanya bertemu dengan teman-temannya yang dulu diremehkan. Coba kalau dulu dia tidak sombong mungkin bisa minta tolong kawan-kawannya yang sukses.”
“Bisakah kalian mengambil hikmah semua omongan Pak Mar ini. Apakah yang akan kita sombongkan, setelah Allah mengambil yang bisa kita sombongkan. Anak-anak Marilah kita renungkan bersama apa yang telah kita lakukan pada orang-orang sekitar kita. Terutama orang tua kita. Sudahkah kita berbakti kepadanya. Pada teman-teman kita, sudahkah kita berbuat baik kepadanya, pernahkah kita menyakiti hati mereka, kalau pernah sekarang berjanjilah dalam lubuk hati yang paling dalam “saya minta maaf temanku, saya telah menyakiti hatimu, tolong maafkan saya” yang pernah merasa disakiti berjanjilah “saya maafkan semua kesalahanmu kawanku, kita semua adalah saudara yang harus saling memaafkan.”
Tidak terasa saya membawa mereka dalam tangis kemenangan. Menang melawan kekerasan hati. Hampir semua anak menangis termasuk anak putra.
“Teruskan anakku biarkanlah air mata menetes tanda kebersamaan kita terjalin kembali. Lepaskan rasa dendam, sekali lagi lepaskan rasa dendam, biarkan rasa dendam pergi terbang jauh,  bukalah pintu maaf selebar-lebarnya. Hanya kebersamaan yang akan menghatarkan kalian sukses. Sukses menjadi orang yang berguna bagi Keluarga, Nusa, Bangsa dan Agama.
Tidak terasa 2 jam pelajaran berlalu. Anak-anak masih bersenggukan menahan tangis.
“Anak-anak kini tiba waktunya kita berjabat tangan lepaskan rasa sakit hati, lepaskan rasa dendam, ikhlaskan hati untuk saling bermaaf-maafan.”
“Silahkan yang depan berdiri bersalaman dengan Pak Mar kemudian berdiri di samping Pak Mar utuk mendapat salaman dari yang lain demikian seterusnya.”
Sambil salaman kulihat anak-anak semakin menjadi tangisnya bahkan ada yang berpelukan. Biarlah, biarlah mereka hanyut dalam tangis kemenangan ini. Setelah selesai salam-salaman anak-anak saya suruh duduk kembali.
“Anak-anak Pak Mar berharap setelah ini nanti kebersamaan kalian terjalin lebih kuat. Kita lupakan masa lalu Kita bangun semangat baru. Baiklah anak-anak sebelum kita berpisah Pak Mar mohon maaf jika selama ini Pak Mar berbuat salah pada kalian. Selamat Menyambut Bulan Ramadhan. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Saya tinggal mereka masih dalam tangis bahagia.
Sesampai di kantor saya ditanya rekan guru-guru, kenapa kelas VI kok banyak yang menangis? “saya marahi” jawabku.
Ketika mereka keluar untuk istirahat kulihat Vivi sudah bersama teman-temanya. “Subhanallah, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau telah menyatukan mereka kembali.” Sorenya saya SMS Vivi. “Nov Pak Mar minta maaf ya, Tadi telah membuat Vivi Menangis” Jawaban SMS dari Vivi “Nggak apa-apa Pak, saya malah senang dapat bersama kawan-kawan lagi.” “Memang itu yang Pak Mar inginkan Nov.”
Dan yang lebih menggembirakan lagi sikap Yayas juga telah banyak berubah yang dulunya kurang baik sekarang berubah menjadi baik ini terlihat setelah masuk selesai libur awal Ramadhan dan sampai sekarang tidak ada lagi tanda-tanda sifat buruk yang pernah ditunjukkan. Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah yang telah menunjukkan kekuasaanMu padaku.
Semoga tulisan ini berguna bagi rekan-rekan guru, dalam menyelesaikan masalah anak-anak ternyata mengurai masalah anak-anak tanpa mencari mana yang salah mana yang benar bisa berakhir lebih indah.

“kisah nyata Juli 2010”
di tulis : P. Mar (Martono)
BACA SELENGKAPNYA → Tangis Kemenangan Menjelang Ramadhan

Konversi satuan dalam sistem satuan yang berbeda


Kita dapat mengubah atau melakukan konversi satuan dalam suatu sistem satuan tertentu menjadi sistem satuan lain, misalnya dari Sistem Inggris menjadi Sistem Internasional atau sebaliknya. Misalnya jika kita mengukur panjang meja menggunakan penggaris berskala inci (Sistem Inggris) dan kita ingin menyatakan panjang meja dalam skala meter (Sistem Internasional) maka kita bisa mengubah atau mengkonversi hasil pengukuran dari satuan inci menjadi satuan meter. Pengubahan satuan seperti ini dapat dilakukan menggunakan faktor konversi satuan.


Konversi satuan dalam sistem satuan yang sama


Kita juga dapat mengubah satuan dalam sistem satuan yang sama, misalnya satuan dalam Sistem Internasional. Sebagai contoh, kita mengetahui massa suatu benda dalam satuan gram (gr) dan kita ingin mengubahnya menjadi kilogram (kg); atau kita mengetahui jarak dua tempat dalam satuan kilometer (km) dan kita ingin mengubahnya menjadi meter (m). Pengubahan satuan seperti ini dapat dilakukan menggunakan faktor konversi atau menggunakan bantuan tangga konversi.


Tangga konversi satuan massa





Tangga konversi satuan panjang





Faktor konversi satuan SI besaran panjang dan massa





Referensi




Ebook Besaran dan Satuan


148.88 KB 5678 downloads


(Ukuran kertas : F4, Jumlah halaman : 10)


Materi Pembelajaran
Besaran pokok, satuan SI dan dimensi
Besaran turunan, satuan SI dan dimensi
Satuan, standar, satuan Sistem Internasional dan Satuan Sistem Inggris
Konversi satuan
Analisis dimensi
Notasi ilmiah
Angka penting






Sumber : https://gurumuda.net/konversi-satuan.htm
BACA SELENGKAPNYA → Konversi satuan dalam sistem satuan yang berbeda

PERBEDAAN CAMPURAN HOMOGEN DAN HETEROGEN



Kebanyakan materi di alam adalah campuran. Campuran merupakan materi yang dapat ditemui di mana-mana. Contohnya batu, laut, bahkan atmosfer. Campuran merupakan sifat fisik bukan sifat kimia. Masing-masing molekul pada campuran berada dekat satu dengan yang lainnya, tetapi struktur dasar kimianya tidak berubah ketika dicampurkan.


Campuran diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu campuran homogen dan campuran heterogen. Campuran heterogen merupakan campuran yang komponen-komponennya masih dapat terlihat terpisah secara kasat mata. Misalnya campuran antara besi dan garam merupakan campuran heterogen. Anda dapat memisahkan besi dari garam dengan magnet. Contoh lainnya adalah kue. Masing-masing kue terdiri dari campuran dari bahan-bahan yang berbeda.





Kue merupakan campuran heterogen






Campuran homogen merupakan campuran serba sama, komponen-komponennya sudah tidak dapat dipisahkan secara kasat mata. Campuran ini disebut juga dengan larutan. Pada campuran ini semua molekul merata dalam larutannya. Contohnya larutan gula, larutan garam dapur dan lain-lain.





Larutan gula merupakan campuran homogen


Perbedaan campuran homogen dan heterogen:
Campuran heterogen merupakan campuran yang komponen-komponennya masih dapat terlihat terpisah secara kasat mata.
Campuran homogen merupakan campuran serba sama, komponen-komponennya sudah tidak dapat dipisahkan secara kasat mata. Campuran homogen disebut juga dengan larutan






Sumber : http://smpsma.com/perbedaan-campuran-homogen-dan-heterogen.html
BACA SELENGKAPNYA → PERBEDAAN CAMPURAN HOMOGEN DAN HETEROGEN

Selasa, 20 Oktober 2015

ARTI, HAKIKAT,FUNGSI, DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA


Hasil gambar untuk hakikat bahasa indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang kita pakai sehari-hari dan juga bahasa resmi negara kita. Dalam penggunaannya, bahasa Indonesia mempunyai beberapa aturan yang harus ditaati agar kita bisa menggunakannya dengan baik dan benar. Tetapi sebelum membahas mengenai bahasa indonesia, saya ingin memberi penjelasan sedikit mengenai makna sebenarnya dari kata "bahasa" itu sendiri.

A. Pengertian Bahasa Indonesia

Pengertian bahasa telah banyak didefinisikan oleh para ahli menurut pandangan mereka masing-masing.
  1. Menurut Santoso, bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar.
  2. Menurut Mackey, bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem.
  3. Menurut Wibowo, bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
  4. Walija mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain.
  5. Pengabean berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
  6. Menurut Kerafsm Arapradhipa memberikan pendapat bahwa Bahasa itu Sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia atau sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal.
  7. Menurut Torigan bahasa adalah suatu sistem yang sistematis barangkali untuk sistem generatif atau seperangkat lambang-lambang atau simbol-simbol orbiter.
Dengan demikian maka bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang menjadi wahana komunikasi dan alat ekspresi budaya yang mencerminkan eksistensi bangsa Indonesia. Pengembangan sikap berbahasa yang mencakup kemahiran berbahasa Indonesia dalam wadah pendidikan formal (sekolah) dilaksanakan melalui mata pelajaran atau mata kuliah Bahasa Indonesia.

B. Hakikat Bahasa Indonesia

1. Hakikat Bahasa Indonesia

· Bahasa sebagai sarana interaksi social
· Bahasa adalah ujaran
· Bahasa meliputi dua bidang yaitu :
Ø bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat ucap yaitu getaran yang bersifat fisik yang merangsang alat pendengaran kita.
Ø arti atau makna adalah isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan adanya reaksi itu.
Ø Setiap struktur bunyi ujaran tertentu akan mempunyai arti tertentu pula.


2. Hakikat Bahasa Indonesia

Bahasa sebagai alat komunikasi mengandung beberapa sifat :

  • Sistematik: yaitu bahasa memiliki pola dan kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya.
  • ·Mana suka: karena unsur-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar, tidak ada hubungan logis antara bunyi dan makna yang disimbolkannya. Pilihan suatu kata disebut kursi, meja, guru, murid dan lain-lain ditentukan bukan atas dasar kriteria atau standar tertentu, melainkan secara mana suka
  • Ujar: bentuk dasar bahasa adalah ujaran, karena media bahasa terpenting adalah bunyi
  • Manusiawi: karena bahasa menjadi berfungsi selama manusia yang memanfaatkannya, bukan makhluk lainnya.
  • Komunikatif: karena fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau alat penghubung antara anggota-anggota masyarakat.
C. Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus harus menguasai bahasanya.
Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya.

Fungsi bahasa ( umum )
Alat ekspresi diri : Bahasa sebagai alat ekspresi diri berarti dengan bahasa manusia dapat menyatukan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam pikiran manusia untuk mengekspresikan diri.
Alat komunikasi : Bahasa merupakan saluran yang memungkinkan untuk bekerja sama dengan sesama manusia. Bahasa sebagai alat komunikasi memungkinkan setiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial tertentu, dan dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan serta memungkinkan integrasi (pembauran) .
Alat integrasi dan adaptasi sosial : Bahasa sebagai alat integrasi, bahasa memungkinkan setiap penuturannya merasa diri terikat dalam kelompok sosial atau masyarakat yang menggunakan bahasa yang sama, para anggota kelompok itu dapat melakukan kerja sama dan membentuk masyarakat. Bahasa yang sama yang memungkinkan mereka bersatu atau berintegrasi di dalam masyarakat tersebut.
Sebagai alat kontrol sosial : Bahasa dapat digunakan untuk mengatur berbagai aktivitas sosial, merencanakan berbagai kegiatan, dan mengarahkan kedalam suatu tujuan yang di inginkan. Bahasa pula yang dilakukan oleh seseorang. Segala kegiatan atau aktivitas dapat berjalan dengan baik apabila diatur atau dikontrol dengan bahasa. Menurut Keraf (1984:6) proses sosialisasi dapat dilakukan dengan cara :
Mempunyai keahlian bicara, membaca dan menulis
Bahasa saluran utama dalam memberikan kepercayaan kepada anak-anak yang sedang tumbuh
Bahasa menjelaskan dan melukiskan perasaan anak untuk mengidentifikasi dirinya, supaya dapat mengambil tindakan-tindakan yang di perlukan
Bahasa menawarkan dasar keterlibatan pada si anak tentang masyarakat bahasanya 
Fungsi bahasa ( khusus)
Bahasa resmi kenegaraan
Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan pembangunan 

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :
Lambang kebangsaan
Lambang identitas nasional
Alat penghubung antarwarga, antardaerah dan antarbudaya
Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda ke dalam satu kesatuan kebangsaan yang bulat.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa indonesia berfungsi sebagai :
Bahasa resmi kenegaraan
Bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan
Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi

4. Kedudukan Bahasa Indonesia

Sebagai Bahasa Nasional
Seperti yang tercantum dalam ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyiKami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.Ini berarti bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa Nasional yang kedudukannya berada diatas bahasa-bahasa daerah.


2. Sebagai Bahasa Negara
Tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 (Bab XV Pasal 36) mengenasi kedudukan bahasa Indonesia yang menyatakan bahawa bahasa negara ialah bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:
Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.
Dari Kedua hal tersebut, maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai:
Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.
Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia)

Sumber : http://maidisyahriyanto.blogspot.co.id/2013/09/arti-hakikatfungsi-dan-kedudukan-bahasa.html
BACA SELENGKAPNYA → ARTI, HAKIKAT,FUNGSI, DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA